Refleksi

Keimanan dan Pengorbanan

Saudaraku, ibarat drama kolosal, ibadah haji adalah epik duologi yang menampilkan gerak kehidupan secara simultan: gerak kembali dan gerak kembara. Yang pertama menampilkan prosesi kepulangan manusia dari “rumah duniawi” menuju “rumah Ilahi” (gerak keimanan).Yang kedua menampilkan prosesi pengembaraan manusia dari “rumah Ilahi” ke “rumah duniawi” (gerak pengorbanan). Kedua gerak ini dijalani lewat napak tilas jejak historis para pahlawan peradaban (Ibrahim, Hajar, dan Ismail) sebagai hulu berpadunya sungai keimanan dan pengorbanan. Gerak kembali ke rumah Allah ini dilalui lewat prosesi “haji kecil” (umrah) dengan serangkaian ritual: ihram, thawaf, dan sa'i. Ali Shariati melukiskan makna simbolis dari ritual umrah itu scr menawan. Dlm berihram, sang aktor (manusia) hrs menanggalkan pakaian sehari-hari di miqat. Krn pakaian, menutupi diri, dan watak manusia; melambangkan status dan perbedaan; menciptakan batas palsu yg menyebabkan perpecahan di antara umat manusia. Dlm perjalanan menuju “rumah Allah”, segala batas dan perbedaan itu hrs dilucuti, krn di mata Allah, derajat manusia sama. Maka, kenakanlah kain tak berjahit dgn warna dasar (putih). Saksikanlah, dlm kesederhanaan dan tanpa topeng, manusia menemukan persamaan dan kesederajatan. Dan, hanya dengan kondisi spt itu, bolehlah ia menuju Ka'bah. Di dalam thawaf, hendaklah sang aktor ikut hanyut dlm arus lautan manusia lainnya. Semua “aku” bersatu menjadi “kita”, berputar mengitari Ka'bah, bagaikan bintang-bintang yang beredar mengelilingi orbitnya. Itu berarti, utk dpt menghampiri Allah, setiap individu hrs menghampiri manusia. Jalan ketuhanan adlah jalanan kemanusiaan. Tanpa tindakan kemanusiaan, kesucian ketuhanan tak bisa direngkuh. Dlm sa'i, sang aktor berlari-lari kecil antara dua bukit, memerankan heroisme Siti Hajar, yg berjuang mencari air utk menyelamatkan bayinya, Ismail. Sa'i berarti berjihad sebisa mungkin demi sesuatu yg lebih besar dari kepentingan sendiri. Bermula dari bukit Shafa (yang berarti cinta murni) menuju Marwah (yang berarti idealitas dan altruisme). Pada titik ini, keimanan berpadu dgn pengorbanan. Dan, di situlah haji kecil berakhir. Ketika gerak kembali berakhir, saatnya melakukan gerak kembara. Kenikmatan “mengenali” Tuhan (makrifat) bukanlah untuk dinikmati sendirian, melainkan perlu dirayakan bersama lewat kesadaran hakikat. Suatu bentuk kesadaran pengayoman yg menenggelamkan egosentrisme demi mencintai dan bersatu dengan alam semesta. Di sini, kita dituntut utk mengenali diri dan dasar perjuangan sebagai khalifah Tuhan di muka bumi. Maka, haji akbar pun dimulai. Pada 9 Dzulhijjah, sang aktor pun meninggalkan “rumah Allah” menuju Padang Arafah. Selama seharian, jamaah haji berhenti (wukuf) di sini, berjemur di bawah terik matahari, membiarkan kepicikan egosentrisme terbakar oleh terang pengetahuan. Arafah sendiri artinya pengetahuan. Pengetahuan sbg titik awal pengenalan diri dan tugas kesejarahan. Bersama sinar mentari yg tenggelam, sang aktor mengarungi malam menuju Masy'ar. Dlm konsentrasi di keheningan malam, diharap terbit kesadaran bahwa pengetahuan bisa bermanfaat atau menyesatkan bagi manusia bergantung pada kesadaran kemanusiaan. Kesadaranlah yang mengubah pengetahuan menjadi moralitas, imoralitas, damai, perang, keadilan, ataupun kezaliman. Masy'ar artinya kesadaran. Masy'ar adalah cahaya yg dinyalakan Allah di dalam hati orang-orang yg dikehendakinya, yakni orang-orang yg berjuang bukan demi diri sendiri, melainkan demi kemaslahatan orang banyak. Menyongsong matahari terbit, sang aktor bergegas menuju Mina. Tibalah saat terpenting di dalam ibadah haji; tanggal 10 Dzulhijjah bertepatan dengan Idul Adha. Persinggahan di Mina yg terlama dan terakhir ini melambangkan harapan, aspirasi, idealisme, dan cinta. Setelah memiliki pengetahuan dan kesadaran, yg hrs dimiliki dlm perjuangan adalah kecintaan terhadap kebenaran dan kemanusiaan. Mina artinya cinta. Di sini kecintaan kepada kebenaran dan kemanusiaan dicapai melalui dua ujian. Pertama, melawan berhala-berhala yg memperbudak manusia, yg dilambangkan dgn melempar batu di tiga jumrah. Pada jumrah pertama, manusia berperang melawan berhala Firaun sebagai lambang penindasan. Pada jumrah kedua, manusia berperang melawan berhala Karun sbg lambang keserakahan. Pada jumrah ketiga, manusia melawan Balam sbg lambang kemunafikan. Kedua, kecintaan pada kebenaran dan kemanusiaan juga diuji dgaln kesediaan melakukan pengorbanan, yg dilambangkan dgn penyembelihan hewan kurban. Pengorbanan inilah yang merupakan fase tertinggi dan terberat dalam perjuangan. Seberat Ibrahim yg hrs mengorbankan anak yg dicintainya. Pengetahuan, kesadaran, dan cinta tanpa pengorbanan tak mungkin mendapatkan hasil yang diinginkan. Ibadah haji mestinya memberi kesadaran bahwa keimanan sejati harus dibuktikan dalam kesediaan melakukan pengorbanan. Diperlukan tekad dan keberanian untuk melakukan penyembelihan: menyembelih hasrat korup demi kesehatan negara, menyembelih keserakahan demi kesetaraan, menyembelih elitisme demi penguatan kerakyatan, menyembelih komunalisme demi solidaritas kewargaan, menyembelih pemborosan demi kelestarian, menyembelih hedonisme demi produktivitas, menyembelih kekerasan demi kebahagiaan hidup bersama. Marilah kita berkorban! Keimanan dan Pengorbanan (2) Ketika gerak kembali berakhir, saatnya melakukan gerak kembara. Kenikmatan “mengenali” Tuhan (makrifat) bukanlah utk dinikmati sendirian, melainkan perlu dirayakan bersama lewat kesadaran hakikat. Suatu bentuk kesadaran pengayoman yg menenggelamkan egosentrisme demi mencintai dan bersatu dgn alam semesta. Di sini, kita dituntut utk mengenali diri dan dasar perjuangan sbg khalifah Tuhan di muka bumi. Maka, haji akbar pun dimulai. Pada 9 Dzulhijjah, sang aktor pun meninggalkan “rumah Allah” menuju Padang Arafah. Selama seharian, jamaah haji berhenti (wukuf) di sini, berjemur di bawah terik mentari, membiarkan kepicikan egosentrisme terbakar oleh terang pengetahuan. Arafah artinya pengetahuan. Pengetahuan sbg titik awal pengenalan diri dan tugas kesejarahan. Bersama sinar mentari yg tenggelam, sang aktor mengarungi malam menuju Masy'ar. Dlm konsentrasi di keheningan malam, diharap terbit kesadaran bahwa pengetahuan bisa bermanfaat atau menyesatkan manusia, tergantung kesadaran kemanusiaan. Kesadaranlah yg mengubah pengetahuan jd moralitas, imoralitas, damai, perang, keadilan, ataupun kezaliman. Masy'ar artinya kesadaran. Masy'ar adlah cahaya yg dinyalakan Allah dlm hati org yg dikehendakinya, yakni org yg berjuang bukan demi diri sendiri, melainkan demi kemaslahatan org banyak. Menyongsong matahari terbit, sang aktor bergegas menuju Mina. Tibalah saat terpenting dlm ibadah haji: 10 Dzulhijjah bertepatan dgn Idul Adha. Persinggahan di Mina yg terlama dan terakhir ini melambangkan harapan, aspirasi, idealisme, dan cinta. Setelah memiliki pengetahuan dan kesadaran, yg hrs dimiliki dlm perjuangan adlah kecintaan pd kebenaran dan kemanusiaan. Mina artinya cinta. Di sini kecintaan pd kebenaran dan kemanusiaan hrs melalui dua ujian. Pertama, melawan berhala-berhala yg memperbudak manusia, dilambangkan dgn melempar batu di tiga jumrah: berhala Firaun (penindasan), Karun (keserakahan), Ba'lam (kemunafikan). Kedua, kecintaan itu diuji dgn kesediaan melakukan pengorbanan, dilambangkan dgn penyembelihan hewan kurban. Pengorbanan inilah yg merupakan fase tertinggi dan terberat dlm perjuangan. Seberat ujian Ibrahim yang harus mengorbankan anak tercinta dicintainya. Pengetahuan, kesadaran, dan cinta tanpa pengorbanan tak mungkin mendapatkan hasil yg diinginkan. Ibadah haji mestinya memberi kesadaran bahwa keimanan sejati harus dibuktikan dalam kesediaan melakukan pengorbanan. Diperlukan tekad dan keberanian untuk melakukan penyembelihan: menyembelih hasrat korup demi kesehatan negara, menyembelih keserakahan demi kesetaraan, menyembelih elitisme demi penguatan kerakyatan, menyembelih tribalisme demi solidaritas kewargaan, menyembelih pemborosan demi kelestarian, menyembelih hedonisme demi produktivitas, menyembelih kekerasan demi kebahagiaan hidup bersama. Marilah kita berkorban! (Makrifat Pagi, Yudi Latif)

Merindu Alam

Hidup di gua isolasi meliarkan imajinasi terbang jauh, menghinggapi setiap lanskap keindahan alam raya, merasakan getar spiritualitas penyatuan diri dalam harmoni agung semesta. Tiba-tiba saja bayanganku mendaki puncak bukit, menyaksikan alam terkembang sebagai guru. Makin tinggi bukit kudaki, makin kaya keragaman hayati. Makin ragam hayati, makin kuat ekosistem. Dari lereng bukit, kusaksian hamparan hijau dedanauan. Alam hijau terkembang karena tumbuh dalam cinta; hasil perjumpaan kerjasama aneka sumberdaya: bibit hayati, sinar mentari, rembesan air, kesuburan bumi, dan semilir angin. Di hamparan dedaunan hijau, masih tampak bebutiran embun. Meski terperangkap di daun lusuh, butir embun tetap bening, tak tercemar lingkungan yang kotor. Tatkala sinar mentari menerpa kabut, alam membiaskan cahya perak berkilau. Saat gelap berganti terang dengan pelayanan sang surya, embun pun mengakhiri tugasnya, bergegas memuai membasahi terik langit dengan uap. Alam tahu kapan harus datang dan pergi. Bisa saling berbagi meski tak bisa saling merasakan. Teguh mengemban misi suci, tak mudah goyah karena keadaan. Makin tinggi posisi, makin memberi ruang hidup bagi keragaman. Embun dan mentari datang tanpa permisi, pergi tanpa pamit. Embun memberi pendinginan, mentari memberi kehangatan. Silih berganti berbagi tugas pelayanan tanpa pamrih, tanpa kecuali. Jika alam yang tak bisa saling merasakan bisa saling berbagi dan melayani, mengapa manusia yang bisa saling merasakan tak bisa saling memberi dan mengasihi? (Makrifat Pagi, Yudi Latif) https://www.instagram.com/p/CRclcbOBNPZ/?utm_medium=share_sheet

Nalar-Nurani Kebebasan

Saudaraku, hidup tanpa kebebasan bagaikan tubuh tanpa jiwa. Kebebasan tanpa akal-budi bagaikan jiwa yang linglung. Kebebasan itu ibarat anggur. Ia bisa menghangatkan darah kehidupan dengan ekses yang mengerikan. Apa yang bisa membawa spontanitas dan kegembiraan, tanpa kendali nalar dan nurani bisa menimbulkan kegilaan. Engkau saksikan sendiri, orde reformasi mendorong orang merayakan pesta demokrasi dengan menenggak anggur kebebasan. Saat orang menikmati anggur kebebasan, kekuatan daya pikir sedang berseluncur ke titik nadir. Kepekaan etik melapuk ke titik tumpul. Minat baca rendah, kedalaman pikiran dihindari. Kedangkalan dirayakan. Politik dan etik terpisah seperti air dan minyak. Ledakan anggur kebebasan dalam kebebalan pikiran dan perasaan membangkitkan kerumunan yang linglung. Elit semenjana berebut kekuasaan bukan berani karena mengerti, melainkan karena tak tahu. Orang-orang memilih pemimpin bukan karena memahami apa-siapa yang dibutuhkan, melainkan karena "sihir" siapa yang paling kuat. Jiwa-jiwa yang bingung mudah dikendalikan para penggertak. Para penggertak itu bisa menakuti kerumunan dengan tongkat ancaman "minoritas" atau "mayoritas", ekstrem kanan atau ekstrem kiri, kampret atau cebong , tanpa memberikan kompas jalan keluar yang terang. Untuk membawa bangsa menuju jalan cahaya, kebebasan perlu dijaga dengan penguatan akal dan adab. Kebebasan beragama dan berkeyakinan perlu tuntunan fajar budi. Kemerdekaan kebangsaan perlu penguatan nalar kemanusiaan. Kebebasan demokrasi harus dipimpin hikmat kebijaksanaan. Kebebasan pasar perlu haluan nilai dan visi keadilan. Hanya dengan kompas nalar dan nurani, kebebasan bisa membawa kita menuju keselamatan dan kebahagiaan hidup bersama. (Makrifat Pagi, Yudi Latif) https://www.instagram.com/p/CRXVLLchtGT/?utm_medium=share_sheet

Olah Batin

Saudaraku, modus beragama sebatas pemujaan lahiriyah formalisme peribadatan, tanpa menggali batiniyah nilai spiritualitas dan moralitas hanyalah berselancar di permukaan gelombang bahaya. Tanpa menyelam di kedalaman pengalaman spiritual, keberagamaan jadi mandul, kering dan keras; tak memiliki sensitivitas-kontemplatif, kehangatan penghayatan, daya kuratif serta hubungan transformatif dgn yg suci dan yg profan. Tanpa penghayatan spiritual yg dlm, org akan kehilangan apa yg disebut penyair John Keats "negative capability"; kesanggupan berdamai dgn ketakpastian, misteri dan keraguan dlm hidup. Tanpa menghikmati misteri, manusia memaksakan absolutisme sbg respons ketakutan atas kompleksitas kehidupan, yg menimbulkan penghancuran ke dlm dan ancaman keluar. Banyak penyeru menekankan pentingnya ibadah sbg cara perangi korupsi, tanpa menyadari bahwa pengamalan keagamaan yg salah pun bisa suburkan korupsi. Bisa dikatakan, akar terdalam tindakan korupsi adlah ”dusta terhadap agama” dgn peribadatan keliru. Al-Qur’an isyaratkan hal ini sbg pangkal kecelakaan. ”Maka celakalah orang-orang yang shalat; yg lalai dlm shalatnya; yg hanya pamer saja; yg tidak memberikan pertolongan” (QS 107: 4-7). Dlm Hikayat Florentin, Machiavelli menandai ”kota korup” dgn sejumlah ciri. Antara lain, pemahaman keagamaan penduduk ”berdasarkan kemalasan bukan kesalehan”, yg menekankan aspek ritual-formal ketimbang esensi ajaran. Memuja insan pembual drpd pekerja, memperindah tempat ibadah drpd amal shaleh, bantu yg papa. Pemulihan krisis kehilangan basis kepercayaannya ketika agama yg mestinya membantu manusia suburkan rasa kesucian, kasih sayang dan perawatan justru memantulkan rasa keputusasaan dan kekerasan zaman dlm bentuk permusuhan dan penyingkiran. Utk keluar dr krisis, suatu bangsa tak hanya perlu transformasi institusional, tp juga transformasi spiritual yg arahkan warga pd kehidupan etis penuh welas asih. Beragama tak berhenti pd apa yg kita percaya, ttp lebih hiraukan apa yg kita perbuat. Agama tak perlu tinggalkan kepercayaan dan ritualnya, ttp lebih memperkuat aspek moralitas-spiritualitasnya demi suburkan kembali bumi nan tandus. (Makrifat Pagi) https://www.instagram.com/tv/CRPd3hZhrrU/?utm_medium=share_sheet

Percaya (Trust)

Saudaraku, apa yg bisa kita pertaruhkan dlm kompetisi global dengan gerak mobilitas yg bergegas, saling terkait, merobohkan tapal batas, dan menciptakan arena permainan yg merata (flat)? Jawaban yg muncul sbg tumpuan daya saing umumnya hanya merujuk aset-aset ”teraba” (tangible): sumberdaya material, tenaga terampil, arus investasi, prosedur demokrasi, legislasi dan sejenisnya. Orang seringkali melupakan kearifan tradisional. Bahwa di balik perubahan cepat serempak, ada elemen konstanta yg sepanjang masa tetap jadi jangkar kekuatan masyarakat. Salah satunya adlah kekuatan karakter sbg aset tak teraba (intangible). Dlm hal itu, ada baiknya kita simak pernyataan Lee Kuan Yew mengenai ”trust”, sbgi modal terpenting dalam usahanya mentransformasikan Singapura yg miskin jadi negara maju. ”Modal kami cuma kepercayaan dan keyakinan rakyat, kerja keras, hemat, haus belajar, serta kesadaran bahwa tindakan korup, khianati kepercayaan rakyat, akan menghancurkan segala harapan.” Masalah trust ini bukan hanya penting dlm kehidupan politik ttp juga dlm daya saing perekonomian bangsa. Francis Fukuyama menyimpulkan, “Kemakmuran suatu bangsa, dan juga kemampuannya utk berkompetisi di pasar global, dikondisikan oleh suatu karakteristik kultural yg bersifar pervasif, yakni tingkat “percaya” (trust) yg secara inheren ada dlm masyarakat tersebut.” Dlm pandangannya, kita tak dpt memisahkan kehidupan ekonomi dari kehidupan budaya. Dlm suatu era ketika “modal sosial” sama pentingnya dgn “modal fisik”, hanya masyarakat dgn tingkat kepercayaan dan amanah yg tinggilah yg akan mampu menciptakan fleksibilitas, organisasi bisnis berskala luas yg diperlukan utk berkompetisi dlm perekonomian global. Alhasil, Jika bangsa ini kehilangan sumberdaya material, kita cuma kehilangan sesuatu. Jika kita tak kunjung menemukan pemimpin yg tepat, kita cuma kehilangan seseorang. Namun jika bangsa ini kehilangan karakter dan rasa percaya, maka kita akan kehilangan segalanya. Marilah kita muliakan rasa saling percaya, dengan kesungguhan mengemban kepercayaan publik, dibarengi semangat saling berbagi dan saling menghormati. (Makrifat Pagi, Yudi Latif) https://www.instagram.com/p/CRFUhYbFQc5/?utm_medium=share_sheet

Terang Dalam Gelap

Terlalu getir utk dikatakan. Karib, kerabat dan orang ternama mendadak pergi direnggut pandemi. Berita mati bahkan bukan lagi sesuatu yg mengejutkan. Sbg kisah getir, absurditas tragedi covid-19 bak puisi kegelapan. Peristiwa disruptif yg mengguncang pemahaman dan kemapanan. Sebuah teks ambigu yg tak kunjung selesai diurai. Ibarat labirin tanda tanya, yg setiap ujungnya selalu sisakan misteri. Tragedi menyentuh kedalaman emosi manusia, membangkitkan daya mitis-estetis alam bawah sadar. Dgn itu, nestapa mengasah kepekaan ekspresi puitik jiwa manusia. Ekspresi puitik dr kekuatan mitis itu semacam mantra yg bisa mengungkapkan hal-hal yg tak terjelaskan, membantu manusia menidurkan kecemasan. Bahwa di balik kegelapan, slalu ada sisi terang. Di balik ancaman kematian dan kepanikan global, bisa kita kenali sisi gelap dan sisi terang dari kehidupan kita. Bagi mereka yg eling dan terang budi, musibah korona bisa jadi pengingat agar manusia tak rakus, membatasi konsumsi pd makanan yg baik dan sehat. Pengurangan aktivitas ruang publik memberi kesempatan alam memulihkan diri dr berbagai polusi dan eksplotisasi. Kembali ke rumah bisa memperkuat simpul keluarga dan solidaritas sosial. Ketergangguan perhubungan internasional menyadarkan kita betapa pentingnya memperjuangkan kedaulatan pangan dan obat-obatan. Utk suatu negara yg begitu luas dan banyak penduduknya, terlalu riskan menggantungkan kebutuhan dasar pada impor. Paradigma ekonomi lama dgn prinsip asal bisa membeli scr murah tak bisa dipertahankan. Dgn cara itu, kita kehilangan wahana peningkatan kapabilitas belajar utk memasuki ekonomi pengetahuan dgn memperbesar nilai tambah atas sumberdaya kita. Tanpa usaha menanam (memproduksi) sendiri dgn penguasaan teknologi sendiri, kita akan terus mengalami defisit neraca pedagangan dan tak bisa mengembangkan kemakmuran secara inklusif. Kebenaran dan kesejatian itu seringkali seperti bintang di langit yg tak bisa dilihat kecuali di gelap malam. Dgn gelap korona bisa kita kenali yg benar sejati dan yg palsu manipulasi; memberi pilihan jalan agar kita bisa keluar dari kelam musibah menuju terang pengharapan. (Makrifat Pagi, Yudi Latif)

Horison Anak Udik

Saudaraku, aku terlahir di sebuah dusun terkucil, ujung selatan Sukabumi, yg tak tampak pd peta manual. Kepungan perbukitan, terjal jalanan, menyulitkan mobilitas; membuat kehidupan desa kami terpencil. Dlm keterpencilan spasial, yg bisa membawa kesempitan mental, pemahaman atas kehidupan dan perkembangan dunia hanya bisa diterobos oleh ketersediaan bahan pustaka. Dunia kepustakaan inilah teropong kecil yg dpt membantu pengembaraan anak dusun menembus batas ruang dan waktu. Terima kasih tak terhingga pd orang tua, guru kemanusiaan pertama dlm kehidupanku. Merekalah yg mengajariku baca-tulis; memperkenalkan dunia luas lewat kalam; menjadikan rumahnya “gudang buku” dan mengajak anak-anaknya giliran membacakan ragam pustaka saat makan bersama. Literasi memberi prakondisi mental utk bersedia menerima hal-hal baru; menerobos dinding ketertutupan primordial dgn membuka diri thd perbedaan, mengubah keyakinan lama dan berempati pd yg lain berkat keluasan horison pemahaman. Demikianlah, buku membawa pengembaraan seorg anak udik-terpencil dgn mentalitas terkepung, yg memandang kelainan sbg ancaman, menjadi seorg dgn mentalitas (relatif) terbuka; bisa melintasi sekat-sekat perbedaan, dan memandang keberlainan sebagai anugerah. Keluasan horizon kehidupan yg diperkenalkan pustaka membuka kemungkinkan pergaulan lintas kultural. Dari pergaulan lintas kultural bisa dipetik pembelajaran, bahwa kebaikan itu bukan monopoli suatu golongan. Begitu pun keburukan, tak bisa ditudingkan ke arah golongan yg lain. Setiap komunitas memiliki kekuatan dan kelemahannya masing-masing. Tugas kepahlawanan adlah merajut kemanusiaan dan kebangsaan dgn mengawinkan elemen-elemen positif dari setiap komunitas lewat proses penyerbukan silang budaya. Dari perjalananku jelajahi negeri, saksikan Indonesia dr jarak dekat dgn bau keringat dan kaki rakyat, jelas terlihat bahwa Indonesia bangsa kuat, meski belum jua menemukan bentuk tata negara dan kepemimpinan politik yg selaras dgn realitas bangsanya. Kuatnya ikatan rasa kebangsaan ini tak hanya andalkan pasak (kekuatan) besar, ttp juga oleh rajutan serat tipis ragam inisiatif warga sukarela utk bersatu dan berbagi. https://www.instagram.com/p/CPwSagXh8kq/?utm_medium=share_sheet

Resonansi

Saudaraku, apa yang mengujimu akan meninggikanmu. Cobaan adalah tempaan untuk meningkatkan daya lenting hidupmu. Apa yang melukaimu akan merahmatimu. Kepedihan adalah obat pahit untuk menyembuhkan sakitmu. Apa yang meletihkanmu akan menggembirakanmu. Keringat adalah pembakaran obesitas yang meringkihkanmu. Apa yang kau impikan akan memimpikanmu. Harapan adalah tepukan sejoli kasih yang tak berbunyi sebelah tangan. Apa yang kau rendahkan akan merendahkanmu. Kehinaan adalah taburan angin keburukan yang menuai badai kenistaan. Apa yang kau perbuat akan menjadikanmu. Nasib adalah ketetapan yang terpahat lewat ikhtiar. (Makrifat Pagi , Yudi Latif) https://www.instagram.com/p/CQ4YhXLhZwd/?utm_medium=share_sheet

Bahagia

Saudaraku, semua org ingin bahagia, namun tak semua org memahami cara menempuh jalan kebahagiaan. Ada org mengejar bahagia dgn memenuhi kesenangan gairah konsumsi dan gaya hidup. Memburu makanan lezat hingga ufuk horison. Merasakan segala minuman hingga yg paling memabukkan. Melampiaskan hasrat birahi dgn segala corak pasangan. Menjajal segala model penampilan hingga reparasi paras. Menimbun harta tanpa batas. Ada org memburu bahagia dgn memenuhi hasrat kuasa. Api ambisi terus berkobar mengejar jabatan. Berbagai organisasi dimasuki sejauh bisa dikuasai. Potensi pesaing disingkirkan demi keabadian kedudukan. Syahwat kuasa tak kenal usia senja. Apakah dgn itu puncak kebahagian insani bisa diraih? Bila mimpi bahagia bisa dicapai dgn memenuhi hasrat bersenang dan berkuasa, hewan di rimba raya pun sanggup mengejarnya. Ketahuilah bahwa manusia dgn hewan tertentu memang memiliki kemiripan. Kromosom manusia dan simpanse sekitar 98 persen identik. Dgn otak mamalia purba, manusia bisa bak binatang: tega membunuh sesamanya bila kekasih atau makanannya direbut. Seperti hewan, manusia juga cenderung berkumpul dgn mereka yang memiliki asal-usul genetik, ciri lahiriah dan identitas yg sama. Tetapi sadarilah, manusia masih memiliki neokorteks. Dgn itu, manusia bisa meninggikan derajatnya dari binatang, lewat pembudidayaan etika, estetika, spiritualitas, ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan. Dgn itu pula manusia bisa mengaktualisasikan dirinya demi meraih kebahagian tertinggi. Kebahagian tertinggi itu terletak pada kesanggupan untuk memberi dan meraih makna hidup. Tidak cukup makan sendiri, tapi merasa lebih bermakna bila bisa berbagi makanan pada sesama. Tidak cukup meraih hasrat kuasa, tapi merasa lebih bermakna bila bisa malayani harapan banyak orang. Tak cukup berkerabat sesama serumpun primodial, tapi lebih merasa bermakna bila dapat menjalin kasih persaudaraan sesama manusia bahkan sesama ciptaan Tuhan. Kebahagiaan tertinggi itu teraih manakala kita bisa menjadi lebih besar dari diri sendiri; terhubung dgn realitas kehidupan dgn segala keragaman dan tantangannya, menciptakan kehidupan yang lebih bermakna bagi kebahagiaan hidup bersama. https://www.instagram.com/p/CQPivP-Bwm4/?utm_medium=share_sheet

Beda tapi Satu

Saudaraku, jangan pernah membenci perbedaan. Bagaimana bisa kau terlahir tanpa perkawinan lelaki dan perempuan. Bagaimana bisa mengagumi rembulan malam tanpa menerima mentari siang. Bagaimana bisa mengenali putih tanpa keberadaan hitam. Bagaimana bisa menyadari kedirianmu tanpa kehadiran yg beda di sekitarmu. Jgn takut pd perbedaan. Bukankah keindahan tamansari krn keragaman puspa. Bukankah keelokan pelangi krn aneka warna. Bukankah kemerduan musik krn paduan ragam nada. Bukankah kemajuan peradabaan krn kawin silang antarbudaya. Meskipun perbedaan yg membuatmu ada, horison pengembangan jatidirimu jgn pernah berhenti di stasiun perbedaan. Perbedaan bukanlah titik ujung, melainkan koma persinggahan. Perbedaan memang membuatmu ada, tapi persatuanlah yg membuatmu kuat. Kelentingan daya sintas hidupmu ditentukan kesanggupan menyadari dan merajut persamaan dgn yg lain. Di balik aneka warna kulit, kau temukan persamaan darah-merah, tulang-putih. Di balik aneka warna pelangi, dasar warnanya sama putih. Di balik aneka ras manusia, semua bermula dari induk yg sama. Di balik ragam agama, semua sama-sama mengajak berserah diri pada Tuhan (Yang Mahakasih). Nama Tuhan bisa kau sebut Allah, El, Elahim, Jehovah, Ahura Mazda, Isvara, Sang Hyang Widhi, Sang Hyang Adi Buddha dan sebutan yg lain, tapi esensi Tuhan sendiri sama. Setiap pemeluk melihat Mentari dari tempat yg berbeda, tapi Sang Mahacahaya sendiri adalah sumber sinar yg sama nan abadi, yg menyinari segala tanpa kecuali. Kematangan hidup memijarkan kesanggupan menghargai perbedaan seraya merajut persamaan. Kearifan Nusantara memuliakannya dlm sesanti "Bhinneka Tunggal Ika". Bahwa beda itu (bhinna ika), satu itu (tunggal ika). Sejauh berjalan di atas jalan kebenaran, akan slalu ada titik-temu. Karena tak ada kebenaran yg mendua (tan hana dharma mangrwa). Itulah jalan "percaya" (dari kata "cahaya"). Gelap memang bisa menyembunyikan pepohonan dan bebungaan dari penglihatan, namun mana bisa menyembunyikan cahaya cinta dari jiwa. Dgn mahadaya cinta jiwa sakinah, segala warna menyatu, rasa bersambung, rezeki berbagi; perbedaan dihargai, persamaan diperkuat. (Makrifat Pagi, Yudi Latif) https://www.instagram.com/p/CQ19VOvFvRp/?utm_medium=share_sheet

Rumah Bahagia

Saudaraku, hidup dlm ancaman pagebluk memaksa org terkurung di rumah fisik. Namun, seberapa banyak kah yg memanfaatkan momen itu sbg peluang berpulang ke rumah sejati (fitrah). Makhluk hidup mengidap sejenis penyakit yg tak bisa disembuhkan kecuali bisa mudik ke “rumah” asal atau menemukan rumah baru, tempat harapan bisa menetas dan berkembang. Itulah nostalgia (nostos = rindu rumah; algos = sakit), berarti homesickness. Setelah mengembara ribuan mil, kura-kura dan burung pulang ke tempat kelahiran utk bertelur atau menjalin perkawinan. Dgn kapasitas otak lebih besar, pengertian pulang bagi manusia tak mesti kembali ke titik sama di muka bumi, ttp bisa saja ke titik fitrah ideal dlm persepsi mental. Meminjam ungkapan Shoshana Zuboff, “Rumah adlah tempat di mana kita bisa mengetahui dan diketahui, mencintai dan dicintai. Rumah adlah kemampuan penguasaan, kehangatan percakapan, kerapatan pergaulan, kedamaian pesanggrahan, ruang berkembang, berlindung dan berpengharapan.” Sebaik-baik rumah dlm imaji Al-Quran adlah rumah sakinah; rumah damai-bahagia yg menyuburkan welas asih sesama anggota keluarga, melebarkan pintu kehangatan pd tetangga, dan meninggikan spiritualitas penghuninya dgn menyatukan diri ke dlm dekapan kasih Ilahi. Sebaik-baik rumah dlm imaji Bible adlah rumah yg dibangun dgn kebijaksanaan, ditegakkan dgn pengertian, yg setiap kamarnya diisi pengetahuan dgn segala kekayaan keriangan dan kemuliaan. Rumah kebajikan Samaritan yg pintunya senantiasa terbuka penuh cinta utk yg lain. Saat langit mendung dirundung bencana wabah, rasa saling percaya pudar dirongrong pengkhianatan, tenunan sosial robek digerus prasangka, kesenjangan meluas dipacu keserakahan, tak ada kerinduan paling menghunjam selain menemukan kembali "rumah bahagia bersama" (home sweet home). Kebahagiaan rumah tangga jd fondasi kebahagiaan rumah kebangsaan. Demi menyehatkan “rumah kebangsaan”, kita hrs keluar dr politik ketakutan menuju politik harapan. Bahwa ketulusan cinta pelayanan bisa menyuburkan bumi dari ketandusannya. Mencinta demi menyuburkan berarti tak masa bodoh (tanggung jawab) thd tanah air sbg rumah bersama. (Makrifat Pagi) https://www.instagram.com/p/CQzc1_Yl4kN/?utm_medium=share_sheet

Eling

Saudaraku, secara jasmaniah bangsa ini tumbuh. Namun, di seantero negeri kualitas pikir mundur, karakter tumpur. Hidup berkembang tanpa ketajaman visi dan kemuliaan budi-pekerti. Dalam gebyar lahir, pelita hati redup, para pengemudi negeri tak mengenali arah tujuan. Penduduk menumpang kendaraan seperti mayat gentayangan. Roda perubahan terus berputar tanpa hasilkan banyak perbaikan. Kemenangan jadi pujaan tanpa hiraukan kebenaran. Popularitas jadi ukuran tanpa pedulikan kualitas. Tak ada isi yang mengendap. Semua catur seperti buih yang lekas kempis diterjang angin. Segala janji seperti layangan putus benang, tak pasti kapan terhempas ke bumi. Orang-orang tampil sebagai pemimpin bukan berani karena mengerti, melainkan karena tak tahu. Demokrasi dirayakan dengan mediokrasi. Aneka upacara dan akrobat politik terus dipertontonkan untuk memalingkan warga dari kenyataan. Di berbagai mimbar, elit negeri melantunkan nyanyian kemajuan, sebagai candu untuk menidurkan warga dari realitas kerawanan. Inilah zaman edan. Orang-orang membenarkan yang biasa, bukan membiasakan yang benar. Kebaikan dimusuhi, kejahatan diagungkan. Yang tak ikut edan tak dapat bagian. Orang-orang harus dibangunkan. Pengetahuan itu pelita hidup. Karakter itu daya hidup. Harapan kebahagiaan dan kemuliaan hanya bagi mereka yang sentiasa eling pikir dan zikir, seraya waspada dengan tuntunan budi baik, benar dan indah. (Makrifat Pagi, Yudi Latif) https://www.instagram.com/p/CQpBralBTFs/?utm_medium=share_sheet