Refleksi

KURANGI BACKLOG PERUMAHAN, BTN JALIN KERJASAMA DENGAN ASANU

BANJARNEGARA- PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) bersinergi dengan Asosiasi Santri Developer Nusantara atau ASANU untuk mendukung pemerintah mengurangi backlog perumahan di Indonesia. Adapun Bank BTN dan ASANU akan menjalin kerjasama layanan jasa perbankan di bidang perumahan. "Dalam kerjasama ini Bank BTN akan memberikan edukasi dalam bentuk konsultasi bisnis dan pembinaan serta pendampingan di bidang kredit dan perumahan serta melayani kebutuhan finansial ASANU baik untuk penyimpanan dana maupun pengajuan pembiayaan," ujar Direktur Finance, Planning, and Treasury Bank BTN Nofry Rony Poetra ketika menghadiri acara penandatanganan Nota Kesepahaman antara Bank BTN dengan ASANU di Banjarnegara, Jawa Tengah, Sabtu (8/1). Nofry menilai, ASANU merupakan mitra strategis bagi Bank BTN karena beranggotakan santri yang dapat mengembangkan kemandirian di bidang properti, mengumpulkan jaringan lebih luas bukan hanya warga Nahdliyin (NU) melainkan seluruh santri di Indonesia. Para santri developer ini diharapakan bisa menginspirasi masyarakat, dan santri lainnya dalam berwiraswasta di bidang usaha properti secara profesional dengan basis akhlak sebagai pondasi berbisnis. Sebagai informasi, tahun lalu program BTN Santri Developer Kebangsaan telah diikuti oleh 1.241 peserta online dan 80 peserta pelatihan offline dari berbagai elemen baik organisasi Islam maupun lintas agama. Alumni pelatihan Santri Developer yang tergabung dalam ASANU ini telah dibekali pengetahuan mengenai pertanahan, perizinan, pembiayaan dan skill set baik secara teori maupun praktek tentang bisnis perumahan, kiat sukses menjadi developer dan seluk beluk industri properti. “ASANU ke depan berpotensi menjadi organisasi besar dalam dunia property diperkuat jaringan Santri yang bergerak memajukan bidang pengembang perumahan di seluruh Indonesia yang pada akhirnya akan menggerakkan perekonomian masyarakat melalui aktivitas usahanya,” katanya. Selain menggandeng ASANU, Bank BTN juga menjalin kerjasama dengan PT Sandev Property Group atau PT SPG yang merupakan holding perusahaan dari para alumni program Santri Developer. Dalam Nota Kesepahaman yang ditandatangani kedua belah pihak, PT SPG merupakan perusahaan yang dibentuk di bawah pengelolaan ASANU yang bergerak dalam penyelenggaraan, pembangunan dan pengembangan perumahan. Sementara itu, Wakil Menteri BUMN I, Pahala N Mansury menilai sinergi antara Bank BTN dengan ASANU maupun PT SPG merupakan bukti nyata, Bank BTN memberikan support secara penuh untuk kemajuan sektor perumahan dan para developer khususnya yang berasal dari komunitas santri. Pahala berharap, kedepannya makin banyak perumahan yang merupakan hasil kerjasama dengan BTN dan ASANU. “Seperti yang kita ketahui, Bank BTN saat ini membangun ekosistem perumahan secara menyeluruh, salah satu bagian ekosistem yang penting adalah developer, tidak hanya pendanaan dan pembiayaan tapi juga support yang lain, ke depannya sektor perumahan dan santri developer terus berkembang dan berkontribusi positif ke kesejahteraan masyarakat Indonesia,” katanya. Sementara itu Wakil Ketua MPR RI sekaligus Pembina ASANU Arsul Sani mengapresiasi Bank BTN yang telah memberikan dukungan dengan memberikan pelatihan di Pesantren Tebuireng, Jombang. Arsul menilai dengan pelatihan Santri Developer yang diberikan, maka pengembangan kewirausahaan yang didukung penuh BTN akan membantu pencapaian Program Sejuta Rumah yang diinisiasi Pemerintah. “Insya Allah di akhir bulan ini juga akan mengadakan pelatihan di Pondok Pesantren Khas Kempek (Cirebon) untuk gelombang ke dua Santri Developer,” kata Arsul. Pada kesempatan yang sama, Ketua Umum NU Circle Gatot Prio Utomo (Gus Pu) mengatakan, NU Circle dan BTN telah menunjukkan bakti dan jariyahnya untuk santri nahdliyin melalui program Santri Developer (Sandev). ASANU merupakan perwujudan aksi nyata para alumni Sandev untuk memperjuangkan hak keadilan atas perumahan bagi rakyat Indonesia. Semoga sinergi ini menjadi kekuatan kita bersama dalam membangun kesejahteraan bagi seluruh lapisan masyarakat Indonesia, dari nahdliyin untuk Indonesia. “Dengan meningkatkan kesejahteraan warga nahdliyin sejatinya kita telah meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia, serta menyelesaikan permasalahan yang dihadapi Pemerintah,” tutupnya.

Deklarasi ASANU Didukung Bank BTN, Ketum NUCircle: Terima Kasih Pak Erick Tohir

Jakarta, 5 Januari 2022 Warga nahdliyin kini memiliki harapan baru di bidang perumahan. Di tengah meningkatnya kebutuhan perumahan, NU Circle akan mendeklarasikan berdirinya Asosiasi Santri Developer Nusantara (ASANU). Asosiasi ini akan didukung penuh perusahaan BUMN yaitu PT Bank Tabungan Negara Tbk. “Kami sudah mendapatkan konfirmasi dukungan Bank BTN yang akan membiayai proyek-proyek para santri developer di seluruh Indonesia. Ini kabar yang sangat membahagiakan kami semua. Hal ini membuktikan Pemerintah khususnya Menteri BUMN Erick Tohir bersama keluarga besar para santri nahdliyin. Terima kasih Pak Erick, “ jelas Ketum NU Circle (NUC) Dr. Gatot Prio Utomo di Jakarta, Rabu (5/1). Deklarasi ASANU akan dipusatkan di Perumahan Alif Ba Residence di Kota Banjarnegara, Jawa Tengah pada Sabtu, 8 Januari 2022 mendatang. Perumahan ini didirikan oleh para alumni Program Santri Developer (Sandev) hasil besutan NU Circle dengan bank BTN. InsyaAllah, acara yang membanggakan para alumni Sandev ini akan dihadiri Wakil Ketua MPR RI Arsul Sani, dzuriyat KH Hasyim Asy’ari yaitu Ibu Nyai Lily Wahid dan pimpinan Bank BTN. Panitia deklarasi juga mengundang Wakil Presiden RI KH Ma’ruf Amin, Wakil Gubernur Jawa Tengah Gus Yasin, dan Wakil Menteri BUMN Pahala Mansury. Menurut Gus Pu, panggilan Gatot Prio Utomo, kehadiran ASANU di tengah backlog perumahan yang masih sangat besar diharapkan dapat menjadi solusi pembangunan perumahan di tanah air. Anggota ASANU telah dididik sebagai developer-developer handal oleh para ahli di bidang perumahan, managemen keuangan dan pemasaran. “Saat ini, jumlah backlog perumahan sebesar 11,4 juta. Dengan dukungan Pemerintah dan BUMN, kami sangat berharap ASANU dapat mengerjakan proyek-proyek perumahan yang diinisiasi Pemerintah seperti perumahan untuk ASN, TNI dan Polri. Dengan dukungan pembiayaan dari BTN, skema pembangunan ini akan bisa dilaksanakan oleh anggota ASANU dengan baik,” jelasnya. Ke depan, ASANU diharapkan akan hadir di berbagai kota di Indonesia. Kehadiran rumah-rumah berkualitas untuk masyarakat Indonesia, khususnya warga nahdliyin, sangat dinantikan.

NU Circle: Umat Nahdliyin Menantikan Visi Pendidikan dan Ekonomi Lebih Riil.

Jakarta, 23 Desember 2021- Jaringan masyarakat profesional santri NU Circle mengucapkan selamat atas terpilihnya KH Miftahul Akhyar sebagai Rais Aam PBNU dan KH Yahya C. Staquf sebagai Ketua Umum PBNU. Terpilihnya kedua sosok pemimpin muslim inspiratif ini diharapkan dapat meningkatkan mutu pendidikan generasi emas nahdliyin serta mengangkat derajat ekonomi warga nahdliyin secara lebih riil. “Sekali lagi kami mengucapkan selamat. Semoga KH Miftahul Akhyar dan Gus Yahya dapat membawa kapal besar PBNU ini dengan baik dan amanah,” kata Ketua Umum NU circle Dr. R. Gatot Prio Utomo di Jakarta (23/12). Harapan NU Circle, semoga Gus Yahya dapat lebih riil meningkatkan kualitas pendidikan generasi emas nahdliyin dan mengangkat kesejahteraan warga nahdliyin lebih baik, konkret, terukur berbasis data dan teknologi. “Konkret bekerja keras meningkatkan kualitas pendidikan generasi nahdliyin agar lebih profesional. Harus mulai disiapkan para pemimpin muda nahdliyin di berbagai sektor, “ ujar Gus Pu, panggilan Gatot Prio Utomo. Menurut Gus Pu, panggilan Gatot, di masa depan, banyak hal akan berubah dan terdisrupsi. Alumni pesantren mau tidak mau dituntut untuk menjadi santri-santri profesional yang lebih kompeten dan profesional di berbagai bidang. “Tantangan di masa depan semakin kompleks. Generasi emas nahdliyin harus mulai disiapkan sejak masih dalam kandungan dengan kontrol gizi ibu hamil dan menyusui. Lalu masuk ke pendidikan dasar, mereka dikembangkan kemampuan bernalarnya dan sebelum memasuki dunia kerja disiapkan kompetensi profesionalnya serta tenaga kerja profesional disalurkan ke berbagai sektor dan instansi,”imbuh Gus Pu. Begitu juga masalah ekonomi. Warga pra sejahtera nahdliyin harus bisa segera dientaskan menjadi lebih sejahtera dengan berbagai langkah taktis strategis di bidang ekonomi. “Tantangan Pak Presiden untuk mengembangkan pertanian dan sinergi dengan industri harus dijawab lunas dengan membangun korporasi berbasis koperasi agar seluruh elemen bisa bergabung dan bersinergi membangun kemaslahatan dan kesejahteraan bersama, “ katanya. Gus Pu meyakini dengan ajaran ahlussunah waljamaah dan ideologi Pancasila, nahdliyin akan menjadi kekuatan utama Indonesia dalam menjaga dan membentengi bangsa dan negara dari segala macam rongrongan. “Itu tak perlu diragukan lagi. Namun keadilan untuk warga nahdliyin harus terus diperjuangkan,” ujarnya. (*)

Sowan Menkop UKM, NUCircle Sinergikan Program Santri Tani dan LPDB

Jakarta, 15 Des 2021 Ketua Umum NU Circle Dr. Gatot Prio Utomo optimis dapat memperkuat Program Santri Tani. Program pemberdayaan profesional santri ini akan disinergikan dengan Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB). Sinergi ini akan menyempurnakan skema bisnis Program Santri Tani (Santani). “Kami tadi berdiskusi dengan Pak Teten Masduki tentang skema bisnis Santani dan koperasi yang didukung pembiayaan dari dana bergulir. Saya optimis sinergi Kemenkop dan UKM ini akan memperkuat upaya NU Circle membangun kemandirian santri dan kesejahteraan warga nahdliyin,” tegas Gatot, Selasa (14/12). Menurut Gus Pu, panggilan Gatot, Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki menyatakan skema bisnis Santani sudah tepat. Dalam program ini, pesantren berkolaborasi dengan industri yaitu PT Sido Muncul, sebagai offtaker. Koperasi pesantren akan diperkuat dengan pembiayaan LPDB yang berfungsi sebagai agregator. Sebagai agregator, koperasi pesantren akan memastikan kualitas produksi dan membeli hasil panen petani. Dengan kepastian pembelian, perbankan akan membantu modal kerja petani. “Pak Menteri sudah membangun model bisnis ini dan berhasil menyejahterakan petani. Intinya adalah proses sinergi pembiayaan dan sinergi dengan industri, tidak hanya di hilir tapi juga di hulu, ” ujarnya. Rencananya, Program Santani akan diluncurkan pada akhir Januari 2022. PT Sido Muncul telah berkomitmen membina petani dan mendorong sebagian proses industrinya untuk dikerjakan di pesantren, seperti proses pembersihan, pemotongan dan pengeringan bahan baku. Koperasi pesantren selain membeli hasil panen petani juga akan didukung dana bergulir untuk pembelian mesin-mesin industri sederhana. ----selesai----

Gus Baha, Ikon Seabad NU

Sebagai penulis, mengetik lima kata seperti judul di atas bukan sesuatu yang sulit. Nyatanya, saya kesulitan menuliskan judul tersebut dan menuntaskan artikelnya berbulan-bulan lamanya. Sejak tiga bulan silam, keinginan itu mencuat. Berkali-kali saya tuliskan nama Gus Baha, berkali-kali pula gagal saya tuntaskan. Satu dua paragraf dan terhapus. Saya terus menghapusnya kembali. Serasa ada yang mencegah. Serasa ada yang berat. Padahal keinginan saya kuat sekali untuk menuliskan judul ini: Gus Baha, Ikon Seabad NU. Pagi ini, saya akan menuliskannya dan menuntaskannya dalam sekali duduk. Saya mesti keluarkan gumpalan kegelisahan dan perenungan yang selama ini bergelayut tentang Gus Baha. Sedikit saja. Namanya KH Ahmad Bahaudin Nursalim. Lebih dikenal dengan Gus Baha. Beliau lahir pada 29 September 1970 di Narukan, Krangan, Rembang, Jawa Tengah. Beliau putra pasangan KH Nursalim dan Hj.Yuchanidz. Gus Baha dikenal dengan gaya pakaiannya. Sangat khas santri pesantren. Pakai sarung. Baju putih dilipat sedikit. Pakai peci hitam agak ke belakang sehingga menyisakan rambutnya. Gaya pakaian ini adalah cermin pikiran dan dakwahnya. Ia sangat sederhana dan menyederhanakan semua kitab yang sulit dipahami oleh awam. Ia menjelaskan Al Qur’an dan Hadist dengan sangat sederhana. Ia menggunakan bahasa yang mudah dipahami tukang becak, satpam, buruh tani, pegawai, dan orang awam lainnya. Dengan begitu, profesor dan para ilmuan juga lebih mengerti pesan utamanya. Ia memberikan contoh-contoh yang dekat denga kehidupan rakyat kebanyakan. Rakyat awam. Kesederhanaan adalah mutiara. Dengan penjelasan yang sederhana dan dekat dengan kehidupan sehari-hari, konsep ilahiyah dan nubuwah seberat apapun dapat diterima dan dipahami dengan baik. Gus Baha menjelaskan konsep Tuhan begitu sederhana. Tuhan harus keren. Harus hebat. Kalau Tuhan dilahirkan dan ada tanggal lahirnya, itu tidak keren. Tidak hebat. Perdebatan konsep ketuhanan antara Fir’aun dan Nabi Musa dijelaskan secara epic. Fir’aun menolak konsep bahwa Tuhan adalah pencipta alam semesta, jagat raya. Fir’aun baru tersadarkan bahwa dirinya bukan Tuhan setelah Nabi Musa menjelaskan tentang Tuhan bapak dan ibunya. Tidak mungkin Tuhan datang lebih akhir daripada bapak dan ibunya. Pameran kekuasaan Allah SWT dijelaskan begitu gamblang. Bukan hanya kehebatan langit dan seisinya. Bukan semata bumi dan alam semesta. Ini tentang manusia diciptakan dan manusia bukanlah Tuhan. Jika ada cerita seorang bayi lahir dari seorang perempuan suci tanpa sekalipun tersentuh laki-laki, itu masih kurang heroik. Nabi Adam jauh lebih heroik. Nabi Adam diciptakan tanpa kehadiran ayah dan ibu. Setelah Nabi Isa dituhankan sebagian manusia, ada golongan umat Islam melarang penghormatan berlebihan terhadap Nabi Muhammad SAW. Takutnya, Nabi Muhammad SAW akan dikultuskan dan dituhankan. Penjelasan Gus Baha sangat sederhana melalui kalimat “Allahumma Sholli Alaa Muhammad.” Tegas-tegas di situ Allah SWT yang memberikan Rahmat kepada Nabi Muhammad. Posisi Nabi Muhammad adalah diberi Rahmat. Allah SWT adalah Tuhan dan Nabi Muhammad adalah manusia. Jelas dan tegas. Penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW yang dilakukan dengan berbagai macam cara dan tradisi sama sekali tidak berpotensi menjadikan Muhammad sebagai Tuhan dan disembah. Muhammad tetaplah seorang manusia dengan segala kehidupan kemanusiaaannya. Manusia pilihan yang Maksum. Manusia yang bahkan Allah SWT dan para malaikat bersholawat untuknya. “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.” (Al Ahzab:56). Konsep aqidah yang sederhana ini mematahkan segala “konflik” kultural yang selama ini terjadi di Nusantara. Gus Baha dapat menjelaskan dan memberi argumentasi ilmiah tentang konsep beragama yang telah menjadi tradisi di Indonesia tanpa berpotensi menuhankan manusia dan menyekutukan Allah SWT. Argumentasi ilmiah adalah argumentasi berdasarkan sanad keilmuan yang benar. Meski tidak persis sama, pola argumentasi ini juga menjadi tradisi ilmiah di kalangan akademisi saat menguji tesis mahasiswa. Argumentasi harus berdasarkan rujukan, referensi , teori sebelumnya yang jelas dan bersumber dari keilmuan yang pasti. Pemahaman terhadap kalimat Bismillahirrahmanirrahim tidak bisa hanya dipahami melalui terjemahan bahasa Arab atau tafsir. Tafsir itu bukan Al Qur’an. Untuk memahami kalimat dalam Al Qur’an diperlukan sanad keilmuan yang jelas, melalui penjelasan para alim allamah berurutan hingga para tabi’in dan seterusnya ke para sahabat dan ke sumber utamanya yaitu Rasulullah Muhammad SAW. Tidak gagah sama sekali jika memahami ayat-ayat dan hukum dalam Al Qur’an dan Hadist langsung dari Al Qur’an dan Hadist. Sebab berpotensi keliru cara memahaminya. Apalagi cuma bermodalkan terjemahan dan tafsir. Terjemahan dan tafsir itu hanya penjelasan subjektif dari seseorang dan bukan kebenaran mutlak seperti yang Allah maksudkan dalam firman-firman-Nya. Akibatnya banyak tokoh, ustad-ustad dan pelaku pembunuhan salah memahami ayat Al Qur’an Gus Baha menggambarkan perdebatan kiai dan santri tentang sebuah masalah. Perdebatan baru berhenti setelah sang kiai mengatakan “pendapat saya bahwa.....’. Si santri tidak membantah lagi karena sang kiai sudah mengatakan “Pendapat saya. Bukan kata Allah swt.” Di sinilah peran Gus Baha yang paling penting. Gus Baha berhasil membangun budaya literasi yang lengkap. Ia membaca puluhan mungkin juga ratusan kitab klasik untuk mengetahui pemahaman satu ayat dalam Al Qur’an. Dengan berbagai literatur sahih dan penjelasan guru utamanya, Gus Baha mendudukkan posisi satu ayat tersebut secara benar dan presisi untuk dilaksanakan umat Islam. Lengkap dengan penjelasan konteks historisnya, asbabun nuzulnya, pemahaman secara linguistik (balaghoh), serta pendapat para alim allamah. Dengan cara dan metodologi seperti itu, pemahaman terhadap Al Qur’an dan Hadist bisa lebih dipertanggungjawabkan. Kekuatan Gus Baha adalah story’ telling-nya. Semua Nash dalam Al Qur’an ada ceritanya. Ada penjelasannya. Ada latar belakangnya. Semua Hadist punya ceritanya. Hukum dan ilmu Fiqh lahir dan “dibangun” melalui konteks sosial kenabian. Nabi yang manusia dan menjalani kehidupan kemanusiaan yang terjaga dalam kemaksuman. Lalu berkembang menjadi pemahaman baru dalam ruang ijtihad sehingga lahirlah qiyas dan ijma. Ruang-ruang ikhtilaf berhasil disandarkan Gus Baha dalam ruang keilmuan yang menarik dan rasional. Dalam konteks beragama di Indonesia, ia tak segan mengkritik “ajaran NU” tentang sholat witir dua rakaat dan dilanjutkan satu rakaat dalam rangkaian sholat tarawih. Ia juga mengkritik Muhammadiyah yang sering menstempel seseorang bid’ah. Contohnya tahlilan. Kalimat tahlil itu begitu agung. Membaca kalimat tahlil itu sangat terpuji dan memiliki dampak sangat baik. Kalimat ini bahkan menggaransi seseorang agar memperoleh itqun minannar. Kritik Gus Baha sejatinya mendudukkan masalah pada asalnya. Qunut misalnya. Persoalan ini muncul jauh di era Imam Syafi’i, Imam Malik dan Hanafi. Di Indonesia, kini qunut telah menjelma menjadi politik identitas. Umat Islam yang suka qunut adalah golongan NU dan yang tidak qunut adalah Muhammadiyah. Dengan penjelasan Gus Baha ini, umat Islam, baik generasi (maaf) kolonial hingga Milenial (generasi x,y,z) diberi wawasan, pandangan, pengetahuan, latar belakang, konteks dan argumentasi tentang berbagai hal dalam Islam. Beragama jauh menjadi lebih rasional dan mengasyikkan: seperti melihat gambar besar, gambar utuh. Beragama Islam dan punya Tuhan, Allah SWT, jadi lebih bangga, lebih keren dan heroik. Menjalankan tradisi keagamaan kini memiliki argumentasi. Tidak ikut-ikutan. Jika ikut pun, rujukannya, (jujugannya) jelas yaitu mengikuti kyai, para alim allamah. Menjalankan hukum-hukum fiqh jadi lebih punya dasar, punya landasan, punya argumentasi. Jika berdakwa pun jauh lebih berhati-hati agar tidak salah memaknai nash-nash dalam Al Qur’an. Jika boleh saya petakan, sejak masuknya Islam di bumi Nusantara secara global seperti ini. Kehadiran para Syeikh di Nusantara adalah masa pengenalan yaitu mengenalkan ajaran Islam. Lalu diteruskan Para Wali Songo dan wali lain di belahan Nusantara yaitu mulai tahap mengajarkan Islam. Para alim allamah di era pra kemerdekaan baik sebelum dan sejak NU didirikan adalah tahap menjalankan Islam, membudayakan ajaran Islam. Setelah itu pascakemerdekaan adalah masa memperkuat ajaran Islam. Kini menjelang 100 tahun atau seabad kelahiran NU, lahirlah alim allama seperti Gus Baha. Di masa inilah tahap memberi penjelasan, menunjukkan gambar besar, argumentasi dan dialektika terhadap ajaran Islam. Masa ini akan terus berlangsung hingga 100 tahun ke depan dengan lahirnya alim allamah baru atau “Gus Baha”- “Gus Baha” yang baru. Inilah ikon baru 100 tahun NU. Kehadiran Gus Baha bisa menjadi arus besar dalam beragama di Indonesia: khususnya ajaran Ahlussunnah Waljamaah. Tradisi membaca berbagai kitab klasik hingga nonklasik memberi teladan peradaban literasi yang luar biasa. Perintah Iqra benar-benar mengalir dalam aliran darah yang dipraktikkan dan dibudayakan. Bukan cuma diucapkan di mimbar-mimbar. Gus Baha menghafalkan Al Qur’an dan Hadist bukan saja untuk menjalankan Sunnah tetapi juga mempermudah argumentasi dan membangun persuasi untuk membangun kesederhanaan dalam berdakwah (mengajar). Gus Baha juga membaca berulang-ulang juga dimaksudkan untuk mengetahui pola-pola ekspresi yang tersurat dan yang tersirat yang ditunjukkan Allah SWT dan Rasulullah Muhammad SAW dalam Al Qur’an dan Hadist. Semoga Allah SWT memberikan Rahmat dan Kemuliaan kepada Gus Baha dan seluruh keluarganya. Aamiin Ya Rabbal Alamin. Jakarta, Sabtu, 13 November 2021 Habe Arifin Sekjend NUCircle

Keimanan dan Pengorbanan

Saudaraku, ibarat drama kolosal, ibadah haji adalah epik duologi yang menampilkan gerak kehidupan secara simultan: gerak kembali dan gerak kembara. Yang pertama menampilkan prosesi kepulangan manusia dari “rumah duniawi” menuju “rumah Ilahi” (gerak keimanan).Yang kedua menampilkan prosesi pengembaraan manusia dari “rumah Ilahi” ke “rumah duniawi” (gerak pengorbanan). Kedua gerak ini dijalani lewat napak tilas jejak historis para pahlawan peradaban (Ibrahim, Hajar, dan Ismail) sebagai hulu berpadunya sungai keimanan dan pengorbanan. Gerak kembali ke rumah Allah ini dilalui lewat prosesi “haji kecil” (umrah) dengan serangkaian ritual: ihram, thawaf, dan sa'i. Ali Shariati melukiskan makna simbolis dari ritual umrah itu scr menawan. Dlm berihram, sang aktor (manusia) hrs menanggalkan pakaian sehari-hari di miqat. Krn pakaian, menutupi diri, dan watak manusia; melambangkan status dan perbedaan; menciptakan batas palsu yg menyebabkan perpecahan di antara umat manusia. Dlm perjalanan menuju “rumah Allah”, segala batas dan perbedaan itu hrs dilucuti, krn di mata Allah, derajat manusia sama. Maka, kenakanlah kain tak berjahit dgn warna dasar (putih). Saksikanlah, dlm kesederhanaan dan tanpa topeng, manusia menemukan persamaan dan kesederajatan. Dan, hanya dengan kondisi spt itu, bolehlah ia menuju Ka'bah. Di dalam thawaf, hendaklah sang aktor ikut hanyut dlm arus lautan manusia lainnya. Semua “aku” bersatu menjadi “kita”, berputar mengitari Ka'bah, bagaikan bintang-bintang yang beredar mengelilingi orbitnya. Itu berarti, utk dpt menghampiri Allah, setiap individu hrs menghampiri manusia. Jalan ketuhanan adlah jalanan kemanusiaan. Tanpa tindakan kemanusiaan, kesucian ketuhanan tak bisa direngkuh. Dlm sa'i, sang aktor berlari-lari kecil antara dua bukit, memerankan heroisme Siti Hajar, yg berjuang mencari air utk menyelamatkan bayinya, Ismail. Sa'i berarti berjihad sebisa mungkin demi sesuatu yg lebih besar dari kepentingan sendiri. Bermula dari bukit Shafa (yang berarti cinta murni) menuju Marwah (yang berarti idealitas dan altruisme). Pada titik ini, keimanan berpadu dgn pengorbanan. Dan, di situlah haji kecil berakhir. Ketika gerak kembali berakhir, saatnya melakukan gerak kembara. Kenikmatan “mengenali” Tuhan (makrifat) bukanlah untuk dinikmati sendirian, melainkan perlu dirayakan bersama lewat kesadaran hakikat. Suatu bentuk kesadaran pengayoman yg menenggelamkan egosentrisme demi mencintai dan bersatu dengan alam semesta. Di sini, kita dituntut utk mengenali diri dan dasar perjuangan sebagai khalifah Tuhan di muka bumi. Maka, haji akbar pun dimulai. Pada 9 Dzulhijjah, sang aktor pun meninggalkan “rumah Allah” menuju Padang Arafah. Selama seharian, jamaah haji berhenti (wukuf) di sini, berjemur di bawah terik matahari, membiarkan kepicikan egosentrisme terbakar oleh terang pengetahuan. Arafah sendiri artinya pengetahuan. Pengetahuan sbg titik awal pengenalan diri dan tugas kesejarahan. Bersama sinar mentari yg tenggelam, sang aktor mengarungi malam menuju Masy'ar. Dlm konsentrasi di keheningan malam, diharap terbit kesadaran bahwa pengetahuan bisa bermanfaat atau menyesatkan bagi manusia bergantung pada kesadaran kemanusiaan. Kesadaranlah yang mengubah pengetahuan menjadi moralitas, imoralitas, damai, perang, keadilan, ataupun kezaliman. Masy'ar artinya kesadaran. Masy'ar adalah cahaya yg dinyalakan Allah di dalam hati orang-orang yg dikehendakinya, yakni orang-orang yg berjuang bukan demi diri sendiri, melainkan demi kemaslahatan orang banyak. Menyongsong matahari terbit, sang aktor bergegas menuju Mina. Tibalah saat terpenting di dalam ibadah haji; tanggal 10 Dzulhijjah bertepatan dengan Idul Adha. Persinggahan di Mina yg terlama dan terakhir ini melambangkan harapan, aspirasi, idealisme, dan cinta. Setelah memiliki pengetahuan dan kesadaran, yg hrs dimiliki dlm perjuangan adalah kecintaan terhadap kebenaran dan kemanusiaan. Mina artinya cinta. Di sini kecintaan kepada kebenaran dan kemanusiaan dicapai melalui dua ujian. Pertama, melawan berhala-berhala yg memperbudak manusia, yg dilambangkan dgn melempar batu di tiga jumrah. Pada jumrah pertama, manusia berperang melawan berhala Firaun sebagai lambang penindasan. Pada jumrah kedua, manusia berperang melawan berhala Karun sbg lambang keserakahan. Pada jumrah ketiga, manusia melawan Balam sbg lambang kemunafikan. Kedua, kecintaan pada kebenaran dan kemanusiaan juga diuji dgaln kesediaan melakukan pengorbanan, yg dilambangkan dgn penyembelihan hewan kurban. Pengorbanan inilah yang merupakan fase tertinggi dan terberat dalam perjuangan. Seberat Ibrahim yg hrs mengorbankan anak yg dicintainya. Pengetahuan, kesadaran, dan cinta tanpa pengorbanan tak mungkin mendapatkan hasil yang diinginkan. Ibadah haji mestinya memberi kesadaran bahwa keimanan sejati harus dibuktikan dalam kesediaan melakukan pengorbanan. Diperlukan tekad dan keberanian untuk melakukan penyembelihan: menyembelih hasrat korup demi kesehatan negara, menyembelih keserakahan demi kesetaraan, menyembelih elitisme demi penguatan kerakyatan, menyembelih komunalisme demi solidaritas kewargaan, menyembelih pemborosan demi kelestarian, menyembelih hedonisme demi produktivitas, menyembelih kekerasan demi kebahagiaan hidup bersama. Marilah kita berkorban! Keimanan dan Pengorbanan (2) Ketika gerak kembali berakhir, saatnya melakukan gerak kembara. Kenikmatan “mengenali” Tuhan (makrifat) bukanlah utk dinikmati sendirian, melainkan perlu dirayakan bersama lewat kesadaran hakikat. Suatu bentuk kesadaran pengayoman yg menenggelamkan egosentrisme demi mencintai dan bersatu dgn alam semesta. Di sini, kita dituntut utk mengenali diri dan dasar perjuangan sbg khalifah Tuhan di muka bumi. Maka, haji akbar pun dimulai. Pada 9 Dzulhijjah, sang aktor pun meninggalkan “rumah Allah” menuju Padang Arafah. Selama seharian, jamaah haji berhenti (wukuf) di sini, berjemur di bawah terik mentari, membiarkan kepicikan egosentrisme terbakar oleh terang pengetahuan. Arafah artinya pengetahuan. Pengetahuan sbg titik awal pengenalan diri dan tugas kesejarahan. Bersama sinar mentari yg tenggelam, sang aktor mengarungi malam menuju Masy'ar. Dlm konsentrasi di keheningan malam, diharap terbit kesadaran bahwa pengetahuan bisa bermanfaat atau menyesatkan manusia, tergantung kesadaran kemanusiaan. Kesadaranlah yg mengubah pengetahuan jd moralitas, imoralitas, damai, perang, keadilan, ataupun kezaliman. Masy'ar artinya kesadaran. Masy'ar adlah cahaya yg dinyalakan Allah dlm hati org yg dikehendakinya, yakni org yg berjuang bukan demi diri sendiri, melainkan demi kemaslahatan org banyak. Menyongsong matahari terbit, sang aktor bergegas menuju Mina. Tibalah saat terpenting dlm ibadah haji: 10 Dzulhijjah bertepatan dgn Idul Adha. Persinggahan di Mina yg terlama dan terakhir ini melambangkan harapan, aspirasi, idealisme, dan cinta. Setelah memiliki pengetahuan dan kesadaran, yg hrs dimiliki dlm perjuangan adlah kecintaan pd kebenaran dan kemanusiaan. Mina artinya cinta. Di sini kecintaan pd kebenaran dan kemanusiaan hrs melalui dua ujian. Pertama, melawan berhala-berhala yg memperbudak manusia, dilambangkan dgn melempar batu di tiga jumrah: berhala Firaun (penindasan), Karun (keserakahan), Ba'lam (kemunafikan). Kedua, kecintaan itu diuji dgn kesediaan melakukan pengorbanan, dilambangkan dgn penyembelihan hewan kurban. Pengorbanan inilah yg merupakan fase tertinggi dan terberat dlm perjuangan. Seberat ujian Ibrahim yang harus mengorbankan anak tercinta dicintainya. Pengetahuan, kesadaran, dan cinta tanpa pengorbanan tak mungkin mendapatkan hasil yg diinginkan. Ibadah haji mestinya memberi kesadaran bahwa keimanan sejati harus dibuktikan dalam kesediaan melakukan pengorbanan. Diperlukan tekad dan keberanian untuk melakukan penyembelihan: menyembelih hasrat korup demi kesehatan negara, menyembelih keserakahan demi kesetaraan, menyembelih elitisme demi penguatan kerakyatan, menyembelih tribalisme demi solidaritas kewargaan, menyembelih pemborosan demi kelestarian, menyembelih hedonisme demi produktivitas, menyembelih kekerasan demi kebahagiaan hidup bersama. Marilah kita berkorban! (Makrifat Pagi, Yudi Latif)

Merindu Alam

Hidup di gua isolasi meliarkan imajinasi terbang jauh, menghinggapi setiap lanskap keindahan alam raya, merasakan getar spiritualitas penyatuan diri dalam harmoni agung semesta. Tiba-tiba saja bayanganku mendaki puncak bukit, menyaksikan alam terkembang sebagai guru. Makin tinggi bukit kudaki, makin kaya keragaman hayati. Makin ragam hayati, makin kuat ekosistem. Dari lereng bukit, kusaksian hamparan hijau dedanauan. Alam hijau terkembang karena tumbuh dalam cinta; hasil perjumpaan kerjasama aneka sumberdaya: bibit hayati, sinar mentari, rembesan air, kesuburan bumi, dan semilir angin. Di hamparan dedaunan hijau, masih tampak bebutiran embun. Meski terperangkap di daun lusuh, butir embun tetap bening, tak tercemar lingkungan yang kotor. Tatkala sinar mentari menerpa kabut, alam membiaskan cahya perak berkilau. Saat gelap berganti terang dengan pelayanan sang surya, embun pun mengakhiri tugasnya, bergegas memuai membasahi terik langit dengan uap. Alam tahu kapan harus datang dan pergi. Bisa saling berbagi meski tak bisa saling merasakan. Teguh mengemban misi suci, tak mudah goyah karena keadaan. Makin tinggi posisi, makin memberi ruang hidup bagi keragaman. Embun dan mentari datang tanpa permisi, pergi tanpa pamit. Embun memberi pendinginan, mentari memberi kehangatan. Silih berganti berbagi tugas pelayanan tanpa pamrih, tanpa kecuali. Jika alam yang tak bisa saling merasakan bisa saling berbagi dan melayani, mengapa manusia yang bisa saling merasakan tak bisa saling memberi dan mengasihi? (Makrifat Pagi, Yudi Latif) https://www.instagram.com/p/CRclcbOBNPZ/?utm_medium=share_sheet

Nalar-Nurani Kebebasan

Saudaraku, hidup tanpa kebebasan bagaikan tubuh tanpa jiwa. Kebebasan tanpa akal-budi bagaikan jiwa yang linglung. Kebebasan itu ibarat anggur. Ia bisa menghangatkan darah kehidupan dengan ekses yang mengerikan. Apa yang bisa membawa spontanitas dan kegembiraan, tanpa kendali nalar dan nurani bisa menimbulkan kegilaan. Engkau saksikan sendiri, orde reformasi mendorong orang merayakan pesta demokrasi dengan menenggak anggur kebebasan. Saat orang menikmati anggur kebebasan, kekuatan daya pikir sedang berseluncur ke titik nadir. Kepekaan etik melapuk ke titik tumpul. Minat baca rendah, kedalaman pikiran dihindari. Kedangkalan dirayakan. Politik dan etik terpisah seperti air dan minyak. Ledakan anggur kebebasan dalam kebebalan pikiran dan perasaan membangkitkan kerumunan yang linglung. Elit semenjana berebut kekuasaan bukan berani karena mengerti, melainkan karena tak tahu. Orang-orang memilih pemimpin bukan karena memahami apa-siapa yang dibutuhkan, melainkan karena "sihir" siapa yang paling kuat. Jiwa-jiwa yang bingung mudah dikendalikan para penggertak. Para penggertak itu bisa menakuti kerumunan dengan tongkat ancaman "minoritas" atau "mayoritas", ekstrem kanan atau ekstrem kiri, kampret atau cebong , tanpa memberikan kompas jalan keluar yang terang. Untuk membawa bangsa menuju jalan cahaya, kebebasan perlu dijaga dengan penguatan akal dan adab. Kebebasan beragama dan berkeyakinan perlu tuntunan fajar budi. Kemerdekaan kebangsaan perlu penguatan nalar kemanusiaan. Kebebasan demokrasi harus dipimpin hikmat kebijaksanaan. Kebebasan pasar perlu haluan nilai dan visi keadilan. Hanya dengan kompas nalar dan nurani, kebebasan bisa membawa kita menuju keselamatan dan kebahagiaan hidup bersama. (Makrifat Pagi, Yudi Latif) https://www.instagram.com/p/CRXVLLchtGT/?utm_medium=share_sheet

Olah Batin

Saudaraku, modus beragama sebatas pemujaan lahiriyah formalisme peribadatan, tanpa menggali batiniyah nilai spiritualitas dan moralitas hanyalah berselancar di permukaan gelombang bahaya. Tanpa menyelam di kedalaman pengalaman spiritual, keberagamaan jadi mandul, kering dan keras; tak memiliki sensitivitas-kontemplatif, kehangatan penghayatan, daya kuratif serta hubungan transformatif dgn yg suci dan yg profan. Tanpa penghayatan spiritual yg dlm, org akan kehilangan apa yg disebut penyair John Keats "negative capability"; kesanggupan berdamai dgn ketakpastian, misteri dan keraguan dlm hidup. Tanpa menghikmati misteri, manusia memaksakan absolutisme sbg respons ketakutan atas kompleksitas kehidupan, yg menimbulkan penghancuran ke dlm dan ancaman keluar. Banyak penyeru menekankan pentingnya ibadah sbg cara perangi korupsi, tanpa menyadari bahwa pengamalan keagamaan yg salah pun bisa suburkan korupsi. Bisa dikatakan, akar terdalam tindakan korupsi adlah ”dusta terhadap agama” dgn peribadatan keliru. Al-Qur’an isyaratkan hal ini sbg pangkal kecelakaan. ”Maka celakalah orang-orang yang shalat; yg lalai dlm shalatnya; yg hanya pamer saja; yg tidak memberikan pertolongan” (QS 107: 4-7). Dlm Hikayat Florentin, Machiavelli menandai ”kota korup” dgn sejumlah ciri. Antara lain, pemahaman keagamaan penduduk ”berdasarkan kemalasan bukan kesalehan”, yg menekankan aspek ritual-formal ketimbang esensi ajaran. Memuja insan pembual drpd pekerja, memperindah tempat ibadah drpd amal shaleh, bantu yg papa. Pemulihan krisis kehilangan basis kepercayaannya ketika agama yg mestinya membantu manusia suburkan rasa kesucian, kasih sayang dan perawatan justru memantulkan rasa keputusasaan dan kekerasan zaman dlm bentuk permusuhan dan penyingkiran. Utk keluar dr krisis, suatu bangsa tak hanya perlu transformasi institusional, tp juga transformasi spiritual yg arahkan warga pd kehidupan etis penuh welas asih. Beragama tak berhenti pd apa yg kita percaya, ttp lebih hiraukan apa yg kita perbuat. Agama tak perlu tinggalkan kepercayaan dan ritualnya, ttp lebih memperkuat aspek moralitas-spiritualitasnya demi suburkan kembali bumi nan tandus. (Makrifat Pagi) https://www.instagram.com/tv/CRPd3hZhrrU/?utm_medium=share_sheet

Percaya (Trust)

Saudaraku, apa yg bisa kita pertaruhkan dlm kompetisi global dengan gerak mobilitas yg bergegas, saling terkait, merobohkan tapal batas, dan menciptakan arena permainan yg merata (flat)? Jawaban yg muncul sbg tumpuan daya saing umumnya hanya merujuk aset-aset ”teraba” (tangible): sumberdaya material, tenaga terampil, arus investasi, prosedur demokrasi, legislasi dan sejenisnya. Orang seringkali melupakan kearifan tradisional. Bahwa di balik perubahan cepat serempak, ada elemen konstanta yg sepanjang masa tetap jadi jangkar kekuatan masyarakat. Salah satunya adlah kekuatan karakter sbg aset tak teraba (intangible). Dlm hal itu, ada baiknya kita simak pernyataan Lee Kuan Yew mengenai ”trust”, sbgi modal terpenting dalam usahanya mentransformasikan Singapura yg miskin jadi negara maju. ”Modal kami cuma kepercayaan dan keyakinan rakyat, kerja keras, hemat, haus belajar, serta kesadaran bahwa tindakan korup, khianati kepercayaan rakyat, akan menghancurkan segala harapan.” Masalah trust ini bukan hanya penting dlm kehidupan politik ttp juga dlm daya saing perekonomian bangsa. Francis Fukuyama menyimpulkan, “Kemakmuran suatu bangsa, dan juga kemampuannya utk berkompetisi di pasar global, dikondisikan oleh suatu karakteristik kultural yg bersifar pervasif, yakni tingkat “percaya” (trust) yg secara inheren ada dlm masyarakat tersebut.” Dlm pandangannya, kita tak dpt memisahkan kehidupan ekonomi dari kehidupan budaya. Dlm suatu era ketika “modal sosial” sama pentingnya dgn “modal fisik”, hanya masyarakat dgn tingkat kepercayaan dan amanah yg tinggilah yg akan mampu menciptakan fleksibilitas, organisasi bisnis berskala luas yg diperlukan utk berkompetisi dlm perekonomian global. Alhasil, Jika bangsa ini kehilangan sumberdaya material, kita cuma kehilangan sesuatu. Jika kita tak kunjung menemukan pemimpin yg tepat, kita cuma kehilangan seseorang. Namun jika bangsa ini kehilangan karakter dan rasa percaya, maka kita akan kehilangan segalanya. Marilah kita muliakan rasa saling percaya, dengan kesungguhan mengemban kepercayaan publik, dibarengi semangat saling berbagi dan saling menghormati. (Makrifat Pagi, Yudi Latif) https://www.instagram.com/p/CRFUhYbFQc5/?utm_medium=share_sheet

Terang Dalam Gelap

Terlalu getir utk dikatakan. Karib, kerabat dan orang ternama mendadak pergi direnggut pandemi. Berita mati bahkan bukan lagi sesuatu yg mengejutkan. Sbg kisah getir, absurditas tragedi covid-19 bak puisi kegelapan. Peristiwa disruptif yg mengguncang pemahaman dan kemapanan. Sebuah teks ambigu yg tak kunjung selesai diurai. Ibarat labirin tanda tanya, yg setiap ujungnya selalu sisakan misteri. Tragedi menyentuh kedalaman emosi manusia, membangkitkan daya mitis-estetis alam bawah sadar. Dgn itu, nestapa mengasah kepekaan ekspresi puitik jiwa manusia. Ekspresi puitik dr kekuatan mitis itu semacam mantra yg bisa mengungkapkan hal-hal yg tak terjelaskan, membantu manusia menidurkan kecemasan. Bahwa di balik kegelapan, slalu ada sisi terang. Di balik ancaman kematian dan kepanikan global, bisa kita kenali sisi gelap dan sisi terang dari kehidupan kita. Bagi mereka yg eling dan terang budi, musibah korona bisa jadi pengingat agar manusia tak rakus, membatasi konsumsi pd makanan yg baik dan sehat. Pengurangan aktivitas ruang publik memberi kesempatan alam memulihkan diri dr berbagai polusi dan eksplotisasi. Kembali ke rumah bisa memperkuat simpul keluarga dan solidaritas sosial. Ketergangguan perhubungan internasional menyadarkan kita betapa pentingnya memperjuangkan kedaulatan pangan dan obat-obatan. Utk suatu negara yg begitu luas dan banyak penduduknya, terlalu riskan menggantungkan kebutuhan dasar pada impor. Paradigma ekonomi lama dgn prinsip asal bisa membeli scr murah tak bisa dipertahankan. Dgn cara itu, kita kehilangan wahana peningkatan kapabilitas belajar utk memasuki ekonomi pengetahuan dgn memperbesar nilai tambah atas sumberdaya kita. Tanpa usaha menanam (memproduksi) sendiri dgn penguasaan teknologi sendiri, kita akan terus mengalami defisit neraca pedagangan dan tak bisa mengembangkan kemakmuran secara inklusif. Kebenaran dan kesejatian itu seringkali seperti bintang di langit yg tak bisa dilihat kecuali di gelap malam. Dgn gelap korona bisa kita kenali yg benar sejati dan yg palsu manipulasi; memberi pilihan jalan agar kita bisa keluar dari kelam musibah menuju terang pengharapan. (Makrifat Pagi, Yudi Latif)

Horison Anak Udik

Saudaraku, aku terlahir di sebuah dusun terkucil, ujung selatan Sukabumi, yg tak tampak pd peta manual. Kepungan perbukitan, terjal jalanan, menyulitkan mobilitas; membuat kehidupan desa kami terpencil. Dlm keterpencilan spasial, yg bisa membawa kesempitan mental, pemahaman atas kehidupan dan perkembangan dunia hanya bisa diterobos oleh ketersediaan bahan pustaka. Dunia kepustakaan inilah teropong kecil yg dpt membantu pengembaraan anak dusun menembus batas ruang dan waktu. Terima kasih tak terhingga pd orang tua, guru kemanusiaan pertama dlm kehidupanku. Merekalah yg mengajariku baca-tulis; memperkenalkan dunia luas lewat kalam; menjadikan rumahnya “gudang buku” dan mengajak anak-anaknya giliran membacakan ragam pustaka saat makan bersama. Literasi memberi prakondisi mental utk bersedia menerima hal-hal baru; menerobos dinding ketertutupan primordial dgn membuka diri thd perbedaan, mengubah keyakinan lama dan berempati pd yg lain berkat keluasan horison pemahaman. Demikianlah, buku membawa pengembaraan seorg anak udik-terpencil dgn mentalitas terkepung, yg memandang kelainan sbg ancaman, menjadi seorg dgn mentalitas (relatif) terbuka; bisa melintasi sekat-sekat perbedaan, dan memandang keberlainan sebagai anugerah. Keluasan horizon kehidupan yg diperkenalkan pustaka membuka kemungkinkan pergaulan lintas kultural. Dari pergaulan lintas kultural bisa dipetik pembelajaran, bahwa kebaikan itu bukan monopoli suatu golongan. Begitu pun keburukan, tak bisa ditudingkan ke arah golongan yg lain. Setiap komunitas memiliki kekuatan dan kelemahannya masing-masing. Tugas kepahlawanan adlah merajut kemanusiaan dan kebangsaan dgn mengawinkan elemen-elemen positif dari setiap komunitas lewat proses penyerbukan silang budaya. Dari perjalananku jelajahi negeri, saksikan Indonesia dr jarak dekat dgn bau keringat dan kaki rakyat, jelas terlihat bahwa Indonesia bangsa kuat, meski belum jua menemukan bentuk tata negara dan kepemimpinan politik yg selaras dgn realitas bangsanya. Kuatnya ikatan rasa kebangsaan ini tak hanya andalkan pasak (kekuatan) besar, ttp juga oleh rajutan serat tipis ragam inisiatif warga sukarela utk bersatu dan berbagi. https://www.instagram.com/p/CPwSagXh8kq/?utm_medium=share_sheet