Tut Wuri Handayani

Updated: Jan 10



Penulis: Ahmad Rizali

Ketika saya bertanya serius kepada pejabat tinggi Kemdikbud mengapa ujar ujar KHD hanya dipakai yg Tut Wuri Handayani saja di logo Kemdikbud, sayang sekali unfortunately tak memperoleh jawaban memuaskan, yo wis lah.


Padahal dlm tafsirku, Ing Ngarso Asung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani itu adalah sebuah sikap utuh kesatuan dan dipakai sesuai konteksnya, bukan Tut Wuri Handayani sebagai hasil akhir dari proses belajar.


Ketika kondisi mengharuskan ada contoh alias tauladan, dipakailah "jurus Ing Ngarso Asung Tolodo" sehingga anak didik atau bawahan atau pasukan yg dipimpin paham. Stopkah ? Tidak. Karena kehidupan dan proses belajar itu "life long" atau "dari buaian hingga liang lahat" sehingga sesuatu yg baru selalu memerlukan Tulodo.


Ketika Tulodo kurang "ngamper" wajiblah pendidik memberi semangat menggerakan anak didik, anak buah dan pasukan agar menggelora dan melakukan "Tulodo" tersebut. Proses "Ing Madyo Mangun Karso inipun tidak lantas stop karena, memberi semangat itu adalah "never ending proses" bahkan kadangkala si "Ing Madyo ..... " ini perlu pula di "Mangun Karso-i..." oleh Guru, kolega bahkan muridnya.


Jika sukses meMangun Karso, pendidik bisa lebih rilek dengan memberi dorongan dari belakang, Tut Wuri Handayani. Tetapi, bisa jadi anak didik ada yg masih perlu Tulodo dan ada yg perlu diManguni Karsone, sehingga pendidik mustahil hanya "diam" dalam satu jenis proses ini. Ujar ujar KHD ini adalah pekerjaan kapten sepakbola modern yg adakalanya menggiring bola menyerang (tulodo), kadang mengatur ritme permainan ditengah (mangun karso) dan ketika pemain tengah dan penyerang sudah bagus, si kapten akan Tut Wuri Handayani melapis bek dan kiper.



9 views0 comments

Recent Posts

See All

Erosi Negara

Penulis: Yudi Latif Ada yang salah dalam negara manakala jabatan politik paling didamba sebagai sumber kehormatan. Bila sebaik-baik manusia adalah yang memberi manfaat bagi orang lain, maka ada begitu

Jalan Memutar

Penulis: Yudi Latif Indonesia harus menempuh jalan memutar karena jalan ke depan adalah jurang. Kita keasyikan berjalan mengikuti gemuruh kerumunan, melupakan tujuan dan kompas panduan. Dalam ketidakj

Genius Nusantara

Penulis: Yudi Latif Pada 1927, cendekiawan India termasyhur Rabindranath Tagore berkunjung ke Jawa dan Bali. Memandang Candi Borobudur secara sepintas, ia merasa seperti melihat India. Begitu memasuki