Mutu Pendidikan

Updated: Jul 3

Hari ini Smeru mengundang Hendarman PhD Kepala PASKA Kemdikbud dan seorang pakar India dan mereka akan diskusi ttg Mutu Pendidikan Indonesia dlm konteks kepemimpinan di Sekolah. Sementara di luar sana ada sidang WB/IMF di Bali yg mengelu elukan kehebatan ekonomi Indonesia dan Presiden bertemu Menristekdikti mendorong semakin banyak PT Indonesia yg masuk Univ Kelas Dunia, tidak hanya UI, ITB dan UGM saja. Selain itu, gaung revolusi industri 4.0 keras sekali.


Di grassroot, ada sekelompok manusia yg memonitor pekerjaan malaekat pembawa azab Tuhan. Sesudah menurut mereka dari Lombok, malaekat terbang ke Utara meluluh lantakkan Palu dan Donggala dan sekitarnya. Kemarin, ujar mereka akan ada Kontes LGBT dan sidang IMF/WB tidak disukai Tuhan, sehingga "pecut" malaekat meledak di Situbondo sebagai pengingat. Why Situbondo ? Soft Reminder kepada Bali yg sedikit kena goyang. Kalau langsung kan azab judulnya.


Saya 3 hari diundang sebuah instansi pendorong pendidikan terbuka dan jarak jauh tingkat (ODL alias PJJ) Sekolah melakukan evaluasi 15 lebih studi mitra mereka, inilah kesan kuat saya:


1. Para pekerja pendidikan non perguruan tinggi, bekerja sangat keras. SMKN di Pangandaran misalnya: mampu mendidik siswa PJJ nya hingga membawa mereka magang di Industri Pengolahan Ikan eks Eksport dan usai magang mereka langsung di angkat menjadi pegawai. Ada pula SMK yg mendidik dg PJJ dan membimbing murid2nya memguasai Kompetensi Dasar (KD) Disain Visual hingga magang di Industri DV. Ini hanya 2 contoh dari puluhan garapan mitra, seperti disain tas ransel sekolah di Tasik.

2. Industri sangat responsif apalagi ketika program yg ditawarkan adalah Mendidik Karyawan DUDI agar kompetensinya meningkat.

3. Berbagai konsep dan praktek baik yg dilakukan seringkali dilenyapkan oleh kebijakan yg lebih mengutamakan indikator IPM alias APK. Sehingga, Pemprov Jabar membangun SMK PJJ yang berdasar hasil studi pakar pendidikan, yg SMA PJJ Ilmu sosial saja mutunya sangat meragukan. Hanya sekali sebulan Guru kunjung hadir dan rapor murid SMA PJJ yg sama dengan sekolah induk sudah di atas KKM. Nilai rapor 7 skala 0-10 yg maaf tdk punya arti apapun.


Malas cerita buruk, saya simpulkan bahwa persoalan terbesar kita adalah "distraksi" dari setiap proses pembelajaran sejak ketakjelasan substansi materi (SI), lemahnya penguasaan SI oleh penjampai (Guru dan Tutor-SPend/TK) hingga konsistensi/frekuensi pertemuan. Saya yakin, dengan mengesampingkan semua Teknologi dan Alat bantu pendidikan modern. Jika guru menguasai materi (menguasai intisari), berbahasa dengan artikulasi yg jelas dapat didengar muridnya dan sikap guru yg tidak menakutkan, maka sedikitnya serapan materi akan baik.


Apalagi jika hal dasar tersebut dikuasai dan dibantu alat modern dan alat bantu pendidikan, sungguh ideal hasil pendidikan (learning outcome) kita meski melalui PJJ.

32 views0 comments

Recent Posts

See All

OMG