Takwa-Bahagia

Apakah manusia diciptakan hanya untuk menyembah (mengagungkan) Tuhan, atau mengandung tujuan kebahagiaan manusia sendiri? Sesungguhnya, antara beribadah kepada Tuhan dan pemenuhan kebahagiaan hidup manusia itu bukanlah jalan bersebrangan yang saling berlawanan, melainkan jalan seiring yang saling menguatkan. Di mata manusia sebagai hamba Tuhan, segala makhluk manusia dengan sendirinya harus berserah diri dengan beribadah kepada-Nya. Di mata Tuhan yang mahakasih, segala makhluk manusia dikendaki meraih kebahagiaan hidup. Bertakwa kepada Tuhan demi meraih ridlo (persetujuan) dari sang Pencipta memberi motivasi yang tinggi bagi manusia untuk berbuat baik dan mencegah keburukan dalam kehidupan. Hidup baik di dunia menjadi jalan kebahagiaan, karena tak ada kebahagiaan yang bisa direngkuh tanpa melalui jalan etis. Saat yang sama, perjuangan manusia dalam meraih kebahagiaan hidup di dunia bisa diraih melalui proses aktualisasi diri secara bermakna dan mulia. Dan proses aktualisasi diri ini mencapai puncaknya dalam "penyatuan" manusia (mikrokosmos) dengan sang pencipta (makrokosmos); tidak ada oposisi, kesenjangan, dan perbedaan antara ego dan kosmos: bahwa bahasa jiwa merupakan vibrasi dari tarian semesta. Aku menyatu dalam Dia sebagai pencipta bersama (co-creator) dalam merawat, memakmurkan, dan membahagiakan bumi kehidupan. Jalan menuju Tuhan harus ditempuh dengan menghadirkan kebajikan dan kebahagiaan hidup. Sedang jalan menuju kebahagiaan hidup harus ditempuh dengan penyerahan dan penyatuan diri dengan Sang Pencipta Ridlo Tuhan merupakan puncak kebermaknaan-kebahagiaan hidup manusia; sedang kebahagiaan manusia merupakan puncak kebahagiaan Yang Maha Kasih. (Makrifat Pagi, Yudi Latif) https://www.instagram.com/p/CQhX0i7BfIq/?utm_medium=share_sheet

Takwa-Bahagia

Apakah manusia diciptakan hanya untuk menyembah (mengagungkan) Tuhan, atau mengandung tujuan kebahagiaan manusia sendiri?