Lawan Covid-19, NU CIRCLE-PDNU Inisiasi Bangun Jaringan Klinik Pesantren


Kesehatan para ulama dan santri di pondok pesantren menjadi perhatian serius NU Circle. Di era pandemi Covid-19 seperti sekarang ini, tak sedikit para ulama yang meninggal terpapar virus ini.


Ketua Umum Masyarakat Profesional Santri (NU CIRCLE) Dr. Gatot Prio Utomo mengambil inisiatif bersama Perhimpunan Dokter NU (PDNU) untuk memperkuat program kesehatan di seluruh pesantren di Indonesia.


“Alhamdulillah, NU CIRCLE bersama PDNU telah duduk bersama memikirkan langkah-langkah strategis ke depan untuk memperkuat kesehatan para ulama dan santri di lingkungan pondok pesantren dengan memperkuat jaringan klinik pesantren (JKP) . Semoga jariyah aksi dan inspirasi ini berhasil menjadikan lingkungan pesantren tetap sehat dan bisa menjadi basis kesehatan masyarakat sekitarnya di kemudian hari,” ujar Gatot Prio Utomo, Senin (25/1/2021).


Hadir dalam rapat virtual yang diselenggarakan Minggu (24/1) antara lain, Sekjen NUC HB Arifin, Ketua Bidang Kesehatan NUC Prof. Dr. Budi Wiweko, Ketua PP PDNU dr. Muhammad S. Niam,FINACS, M.Kes, Ketua I dr. Citra Fitri Agustina, Sp. KJ, Ketua II Muhammad Zaim Chilmi, Sp. OT, Ketua III dr. Hardadi Airlangga Sp.PD.


Inisiatif para profesional di bidang kesehatan ini diharapkan mampu mengokohkan kesehatan pesantren melawan Covid-19 yang telah dimulai sejak awal pandemi melalui berbagai aksi. “Saya berharap sinergi ini akan mengokohkan ikhtiar kita menjaga para ulama dan santri tidak saja dari serangan Covid-19 tetapi juga dari penyakit lainnya,” ujar Ketua PP PDNU Muhammad S. Niam.


Begitu kompleksnya masalah kesehatan, sinergi ini diharapkan dapat berkembang ke sejumlah lembaga lain seperti ke Asosiasi Rumah Sakit NU dan Lembaga Kesehatan NU.


Tiga Aksi Utama

Ketua Bidang Kesehatan NUC Prof. Dr. dr. Budi Wiweko, Sp.OG,MPH menyatakan pandemi Covid-19 telah memberi pelajaran pada kita semua bahwa Fasilitas Pelayanan Tingkat Pertama (FKTP) merupakan kunci utama pembangunan kesehatan suatu bangsa.


“Pandemi Covid 19 telah mengajarkan kepada kita bahwa ketahanan kesehatan merupakan hal yang penting bagi suatu negara. Upaya promotif, preventif, dan deteksi dini merupakan sebuah keniscayaan bagi suatu negara untuk menurunkan morbiditas, mortalitas maupun bertahan terhadap ancaman new emerging diseases,” tegasnya.


Menurut Prof Iko, panggilannya, fasilitas kesehatan tingkat pertama memiliki kewenangan dan peluang untuk melakukan hal ini semua. Dengan berbasis sistem kapitasi, FKTP bertujuan untuk menjaga penduduk yang menjadi tanggung jawabnya untuk tetap sehat dan kuat. Pemanfaatan maha data kesehatan sekaligus dapat dilakukan oleh FKTP sehingga dapat membangun algoritme yang penting bagi kegiatan promotif dan preventif.


“ Jaringan klinik pesantren merupakan salah satu contoh layanan FKTP yang dapat dibangun untuk memperkuat ketahanan kesehatan. Berbasis layanan promotif dan preventif, jaringan ini akan dapat membangun maha data kesehatan sebagai modal pembangunan ketahanan kesehatan Indonesia,” imbuhnya.


Dikatakannya, tahun 2020, data program jaminan kesehatan nasional menunjukkan 221.024 juta penduduk Indonesia telah terdaftar pada 27.055 fasilitas pelayanan kesehatan yang tersebar di seluruh pelosok tanah air, 22.840 di antaranya merupakan fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama (FKTP). Fokus utama pendekatan program kesehatan saat ini adalah layanan promotif dan preventif yang bertujuan untuk mencegah terjadinya penyakit degeneratif maupun penyakit infeksi di kemudian hari.


“Tiga langkah strategis harus dilakukan sebagai road map membangun jaringan klinik pesantren. Pertama, penguatan sumber daya manusia. Kedua, penguatan infrastruktur, dan ketiga managemen gotong royong yang profesional,” katanya.

Sumber daya manusia merupakan kekuatan utama dalam pembangunan jaringan klinik pratama (FKTP) Nahdlatul Ulama. Perhimpunan dokter NU (PDNU) merupakan modal utama dalam pengembangan sumber daya manusia jaringan klinik NU. Harus segera disusun dan ditetapkan program pendidikan dan pelatihan SDM PDNU secara sistematik dan berjenjang.


Dalam hal penguatan infrastruktur, dilakukan pemetaan, klasifikasi dan prioritisasi FKTP yang sudah ada saat ini di pesantren sehingga bisa ditetapkan quick win project sebagai model yang diharapkan dapat diikuti oleh yang lainnya. Modalitas FKTP dan infrastruktur teknologi (salam doc) merupakan embrio yang baik bagi pengembangan tele health serta wearable device di Jaringan Klinik Pesantren yang juga amat baik bagi pengumpulan maha data kesehatan.


NU Circle yang lebih feksibel dan cepat dalam bergerak diharapkan mampu memfasilitasi manajemen gotong royong yang profesional dalam mengakselerasi pembangunan jaringan klinik pesantren yang optimal dan adikuat. “Beberapa skema pendanaan dan pengelolaan jaringan JKP menjadi kata kunci agar NUC dapat berkontribusi membangun ketahanan kesehatan bangsa Indonesia,” tambahnya. (*)

33 views0 comments